
Sekjen DPP AJH, Anjas Milan, ST., SH., M.Si.
Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketika perang meluas dan jalur distribusi energi dunia seperti Selat Hormuz terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga oleh negara lain yang bergantung pada stabilitas energi global, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, perang di Timur Tengah bukan sekadar isu politik luar negeri. Konflik tersebut dapat menjelma menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional. Indonesia masih berstatus sebagai net importer minyak, sehingga setiap lonjakan harga minyak dunia hampir pasti akan berdampak pada biaya energi domestik, beban subsidi pemerintah, serta tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
Penutupan atau gangguan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak dunia dalam waktu singkat. Jalur ini merupakan salah satu rute distribusi minyak paling vital di dunia. Ketika aliran minyak terganggu, pasar energi global bereaksi cepat dengan kenaikan harga. Kondisi ini pada akhirnya memaksa banyak negara importir energi, termasuk Indonesia, untuk mengeluarkan biaya lebih besar dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.
Dampak yang muncul tidak berhenti pada sektor energi. Lonjakan harga minyak biasanya diikuti oleh kenaikan biaya transportasi dan logistik. Efek berantai ini dapat mendorong kenaikan harga pangan, barang kebutuhan pokok, serta menekan daya beli masyarakat. Jika situasi berlangsung lama, tekanan inflasi dapat meningkat dan mempersempit ruang fiskal pemerintah.
Selain dampak langsung pada harga energi, konflik geopolitik juga memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Dalam situasi seperti ini, investor internasional cenderung mengalihkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar Amerika Serikat. Fenomena yang dikenal sebagai flight to safety ini berpotensi memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
Akibatnya, nilai tukar rupiah dapat mengalami tekanan. Pelemahan rupiah bukan hanya berdampak pada perdagangan luar negeri, tetapi juga meningkatkan biaya pembayaran utang luar negeri serta memicu volatilitas di pasar saham domestik.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi Indonesia tidak bisa dipisahkan dari dinamika geopolitik global. Ketergantungan pada impor energi masih menjadi titik lemah yang harus segera diatasi. Pemerintah perlu mempercepat upaya diversifikasi energi, memperkuat cadangan energi nasional, serta mengembangkan sumber energi alternatif agar ketahanan energi tidak mudah terguncang oleh konflik internasional.
Di tengah situasi global yang semakin tidak pasti, kewaspadaan dan kesiapan kebijakan menjadi kunci utama. Konflik di Timur Tengah mungkin terjadi jauh dari wilayah Indonesia, tetapi dampaknya dapat terasa hingga ke dapur rumah tangga masyarakat. Karena itu, langkah antisipasi yang cepat, terukur, dan strategis sangat diperlukan agar gejolak geopolitik dunia tidak berubah menjadi krisis ekonomi di dalam negeri.
Penulis : Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Aliansi Jurnalis Hukum (Sekjen DPP AJH), Anjas Milan, ST., SH., M.Si
Posting Komentar