Pesan Mendalam Ketua DPD AJH Medan Tentang Kesucian dan Persaudaraan Momen Idul Fitri

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Aliansi Jurnalis Hukum (DPD AJH) Kota Medan, M. Rais

SWARAHUKUM.COM
-Medan, Makna Idul Fitri menjadi pengingat penting bagi umat Muslim untuk kembali kepada kesucian setelah menjalani ibadah puasa Ramadan. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Aliansi Jurnalis Hukum (DPD AJH) Kota Medan, M. Rais, menegaskan bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi momentum spiritual yang sarat nilai keimanan dan kemanusiaan.


Makna Idul Fitri, menurut M. Rais Minggu (22/3/2026), secara harfiah berarti kembali kepada fitrah atau kesucian diri. Momentum ini hadir setiap 1 Syawal dalam kalender Hijriah sebagai penanda berakhirnya ibadah puasa Ramadan. Ia menilai, keberhasilan menahan hawa nafsu selama sebulan penuh menjadi kemenangan sejati yang patut disyukuri.


Idul Fitri 1447 Hijriah, lanjutnya, harus dimaknai sebagai titik awal untuk memperbaiki diri. Umat Muslim diajak melakukan introspeksi dan membuka lembaran baru dengan hati yang bersih. Nilai saling memaafkan dan mempererat hubungan antarsesama menjadi inti utama yang tidak boleh diabaikan dalam perayaan ini.


Sejarah Idul Fitri berakar sejak tahun kedua Hijriah, ketika Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat merayakan hari kemenangan setelah menjalani puasa Ramadan pertama. Sejak saat itu, Idul Fitri menjadi hari besar dalam Islam yang memiliki dasar syariat kuat melalui hadis-hadis Nabi.


Dalam ajaran Islam, umat dianjurkan bergembira di hari raya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Perayaan ini juga menggantikan tradisi hari raya di masa Jahiliah, sehingga memiliki makna religius yang mendalam, bukan sekadar tradisi budaya.


Ritual Idul Fitri diawali dengan pelaksanaan salat Id secara berjamaah. Salat ini menjadi simbol persatuan umat Muslim tanpa memandang perbedaan. M. Rais menilai, momen tersebut memperlihatkan kekuatan kebersamaan dan nilai kesetaraan di hadapan Tuhan.


Selain itu, umat Muslim dianjurkan mempersiapkan diri dengan mandi besar, mengenakan pakaian terbaik, serta mengonsumsi makanan sebelum berangkat salat Id. Hal ini menjadi bentuk penghormatan terhadap hari kemenangan yang penuh berkah.


Zakat fitrah juga menjadi kewajiban penting yang harus ditunaikan sebelum salat Id. M. Rais menekankan bahwa zakat fitrah bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga wujud nyata kepedulian sosial. Dengan membayar zakat, umat Muslim membantu memastikan semua orang dapat merayakan Idul Fitri dengan layak.


Umumnya, zakat fitrah dibayarkan dalam bentuk bahan makanan pokok seperti beras seberat 2,5 kilogram atau setara nilainya dalam uang. Penyaluran zakat dilakukan melalui amil untuk diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan.


Malam takbiran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Idul Fitri. Kumandang takbir, tahmid, dan tahlil menggema di berbagai penjuru, menciptakan suasana religius yang penuh haru dan kebahagiaan. Momen ini menjadi simbol kemenangan setelah menjalani ibadah Ramadan.


Di Indonesia, perayaan Idul Fitri juga identik dengan tradisi mudik. Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga. Tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan dalam masyarakat.


M. Rais menilai, mudik bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan emosional untuk mempererat kembali hubungan keluarga. Meski sering dihadapkan pada tantangan seperti kemacetan, tradisi ini tetap menjadi bagian penting dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia.


Ia berharap, Idul Fitri 1447 H dapat menjadi momentum bagi seluruh umat Muslim untuk memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.(Red)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama